Kamis, 24 Juli 2014

Puncak Madina

Bu Betty (yang pake handuk putih) memberikan pengarahan kepada Tim


Kawan, aku punya cerita baru nih tidak kalah menarik dari apa yang telah aku ceritakan sebelumnya namun pasti ada juga sisi tidak menariknya :D. Cerita ini dimulai ketika aku bersama dengan Pak Helmi selaku team leader dan Bang Edi selaku driver  berangkat menuju Madina alias Mandailing Natal. Suatu tempat yang belum pernah aku jajaki apalagi aku lihat oleh sebab itu wajar jika rasa penasaran yang tinggi mengaliri seluruh tubuku.
Pagi itu selasa 17 Juni 2014, kami berencana untuk berangkat pagi sekali agar bisa tidak kemalaman ketika tiba di Madina, namun karena suatu dan lain hal kami memilih sarapan bersama terlebih dahulu di salah satu tempat favorit Pak Helmi dimana beliau selalu memesan dua potong lopis dan secangkir kopi. Ya semenjak waktu itu kami ajak beliau sarapan disana beliau menjadikan tempat yang berlokasi persis di samping kiri Mesjid Agung An-Nur menjadi salah satu tempat santap pagi favorit. Sepertinya beliau mulai melupakan lontong medan favoritnya yang ada di Jalan Durian.
“aku lopis isi dua dan kopi satu ya,” begitu kataya ketika setiap pelayan bertanya, sedangkan aku memesan sepiring nasi goreng dan Bang Edi hanya segelas kopi karena sudah sarapan di rumah terlebih dahulu.
 Pak Helmi adalah tipikal orang yang tidak terlalu suka duduk lama-lama di meja makan, begitu santapan kami habis hanya beberapa saat beliau mengajak kami untuk segera pergi. Pernah waktu itu beliau berkata ketika kami makan malam dengan temannya, “bisnis tidak usah lama-lama nda yang penting poin sampai,” gitu kata beliau. Setelah membayar kami pun pergi meninggalkan tempat sarapan menuju lokasi yang dituju yaitu Mandailing Natal. Sebelumnya kami juga sempat berhenti di sebuah minimarket kawakan untuk membeli beberapa bungkus permen yang akan kami nikmati di sepanjang perjalanan.
 Oh ya sebelumnya aku akan menjelaskan rute yang akan kami tempuh menuju Madina, kayak gini nih bagannya : Pekanbaru à Pasir Pangiraian à Dalu-Dalu à Padang Lawas à Sibuhuan à Gunung Tua à Padang Sidempuan à Panyabungan à PT. Perkebunan Sumatera Utara (Transit semalam) à PTPN IV Madina.

Selasa, 03 Juni 2014

Toleransi dalam Pancasila


Pancasila, jika kita mendengar kata Pancasila maka seketika yang teringat adalah pada saat upacara bendera atau ketika kita sedang belajar pendidikan kewarganegaraan di sekolah. Mengapa demikian? karena memang masa-masa itu Pancasila kerap kali kita dengar bahkan ketika upacara bendera kita selalu mengucapkannya. Tetapi apa sebenarnya yang terkandung di dalam Pancasila?. Jawaban sederhananya mungkin adalah karena Pancasila merupakan sebuah dasar negara, ideologi bangsa Indonesia oleh karena itu maka sebuah dasar negara harus terus dipertahankan demi tercapainya cita-cita yang di inginkan oleh bangsa ini. Pancasila mencakup nilai-nilai yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik, salah satunya adalah nilai toleransi yang ada di dalam Pancasila. Untuk mengetahui salah satu nilai luhur dalam Pancasila yaitu toleransi maka kita perlu tahu mengapa Pancasila lahir dan dijadikan ideologi bangsa kita.

Sejarah lahirnya Pancasila
Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta yaitu  panca berarti lima dan sila berarti prinsip atau asas. Jadi, Pancasila dapat diartikan sebagai dasar ideologi yang digunakan oleh Negara Indonesia. Kelima asas Pancasila ini tercantum pada Preambule atau Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 paragraf ke-4.
Tepat pada 1 Juni 1945 di depan sidang BPUPKI ( Badan Perumus Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau yang disebut juga dengan Dokoritsu Zyunbi Tyoosakai, sang Proklamator Bung Karno menyatakan gagasannya sebagai ide awal Pancasila. Sukarno dengan lantang berbicara di depan para peserta sidang yang juga dihadiri oleh rakyat menjelaskan lima konsep awal dasar negara Indonesia yang merdeka adalah Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme – atau perikemanusiaan, mufakat-atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa Bung Karno mengatakan ketuhanan? Karena Bung Karno mengetahui bahwa bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam elemen masyarakat yang berbeda dalam segi agama oleh karena itu setiap masyarakat harus memiliki dan percaya akan Tuhannya masing-masing. Sehingga dapat dikatakan bahwa orang yang tidak memiliki Tuhan bukanlah bagian dari bangsa Indonesia oleh karena itu orang atheis tidak diperkenankan untuk menempati bumi pertiwi. Apakah dengan pidato Bung Karno yang disambut gemuruh hadirin lantas tercipta Pancasila? maka lagi-lagi kita harus berkaca kepada sejarah bahwa untuk menetapkan Pancasila sebagai dasar negara, Bung Karno dan kawan-kawan harus mendapatkan pertetangan dari berbagai golongan, salah satunya adalah golongan islam yang menginginkan bahwa seharusnya sila pertama berpedoman kepada ajaran umat islam karena mayoritas penduduk Indonesia adalah penganut agama islam. Penolakan tersebut datang dari sahabat dekat Bung Karno sendiri yaitu Kartosuwiryo yang akhirnya memulai gerakan melawan pemerintahan Sukarno dengan mendirikan kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Kartosuwiryo secara resmi menyatakan perang dengan Sukarno yang merupakan sahabat semasa remajanya ketika masih berguru dengan H.O.S Cokroaminoto. Kita bisa membayangkan bahwa demi tegaknya Pancasila, Sukarno rela menumpas perlawanan dari sahabatnya sendiri yang juga seiman dengannya yaitu islam.

Kamis, 15 Mei 2014

Saya dan Rusli Zainal



Sekarang saya di Haluan Riau kawan karena waktu terasa begitu cepat dan terus berjalan maka setiap detiknya harus kita lewati dengan penuh makna. Tidak salah memang ada orang bilang bahwa waktu seperti anak panah yang telah lepas dari busurnya yang tidak akan kembali kepada busurnya. Saya mersakan kembali ke masa lalu. Bekerja sebagai kuli tinta di kota ini tentu seperti kembali ke masa lalu bagi saya hanya saja kali ini kota yang saya kuasai berbeda jauh dengan kota masa lalu yaitu Padang.
 Alangkah baiknya saya juga mengupas sedikit bagaimana pers di Riau utamanya di Pekanbaru sebagai pusaran provinsi, saya menilai ini penilaian saya lho saya ulangi ini penilaian saya pers di Riau adalah sebuah industri media massa yang sangat sulit untuk di bendung dan akan terus tumbuh karena memang di sini putaran uang begitu cepat. Nah apa yang saya maksud dengan pers industri? Itu kan sama saja dengan industri media massa dimana pemilik media massa ingin tetap medianya berjaya dengan mencari iklan sebanyak-banyaknya untuk tetap hidup. Saya juga tidak bilang bahwa media di Riau isinya iklan semua tetapi kawan kan bisa menilai sendiri. Apabila dibandingkan dengan media yang ada di Kota Padang maka akan terlihat perbedaannya dengan jelas, mungkin saja ini mungkin lho karena umur media massa di Riau masih tergolong muda dibandingkan dengan media yang ada di Kota Padang. Sebut saja Haluan yang menjadi koran pertama di Sumatera dengan basis awal di Kota Bukittinggi.
Namun media di Riau memiliki peran yang sangat vital bagi pemerintahan dan masyarakat Riau karena begitu mudahnya akses informasi didapat disini sehingga tidak heran jika para pelaku pers Riau akrab dengan penguasa. Hasilnya adalah beberapa media di Riau mendapatkan kontrak fantastis yang bersumber dari APBD sehingga tidak heran jika advetorial pemerintah daerah menghiasi lebih dari separuh halaman beberapa harian di Riau. Ini bagaikan sebuah simbiosis mutualisme yang kerap kali berakibat pada kerugian kedua belah pihak. Pusing kan mencernanya? Pusing kaaaann? Hahaha...ya sudahlah jangan terlalu di fikirkan kawan. Perburuan berita pun dimulai dengan posisi saya sebagai wartawan magang di Haluan Riau, mungkin anda bertanya berapa gaji yang saya dapat? Iya kan, nah karena saya masih wartawan magang maka saya di gaji berdasarkan berapa berita saya yang dimuat di koran esok harinya. Tidak masalah bagi saya karena saya yakin saya bisa mendapatkan persediaan uang yang cukup bagi saya karena Tuhan tidak akan pernah lengah melihat hambanya yang tengah berusaha.
 Betapa beruntungnya saya ketika bergabung di Haluan Riau saya telah memahami kota Pekanbaru dengan cukup baik karena semasa bekerja di KIA Mobil saya juga lebih sering berada di luar ruangan alias di jalanan :D. Tidak heran juga saya hafal beberapa tempat penting di kota ini dan ternyata hal tersebut berguna dengan sangat bagi saya ketika di Haluan Riau. Dalam hal ini saya mengucapkan terima kasih banyak kepada bapak Andrea Tovany selaku abang, teman sekaligus supervisor saya ketika di KIA berkat arahan dan semangat pantang menyerah yang ia ajarkan saya menjadi lebih bisa beradaptasi di sini. Coba kawan bayangkan sepertinya alur cerita ini sudah ada yang mengatur, bagaimana tidak saya memulai hidup di kota ini sebagai seorang marketing yang pada dasarnya adalah menuntut saya untuk beradaptasi di kota ini dengan berkenalan dengan sebanyak mungkin orang setiap hari. Jelas bahwa untuk sukses kita perlu mengetahui kondisi lingkungan terlebih dahulu karena itu sama kayak perang dimana kita harus tau terlebih dahulu calon lawan dan medan yang akan di tempuh.
Seorang kapten seperti pak Andre kiranya paham betul bagaimana mendidik marketingnya untuk dengan cepat mengenal seisi kota. Beruntungnya saya mematuhi apa yang di intsruksikan oleh pak Andre waktu itu dan baru saya sadari manfaatnya ketika saya berada di Haluan. Saya dengan mantap menyebutnya sebagai hikmah menjadi seorang marketing. Tugas demi tugas yang diberikan oleh koordinator liputan saya lahap dengan baik karena saya termotivasi untuk mengejar nama saya tercantum di halaman pertama Haluan Riau.
 Oh ya perkenalkan koordinator liputan saya namanya bang Elpi, ia telah menjadi wartawan di Haluan ketika masih bernama Riau Mandiri dedikasinya yang sudah lebih dari 10 tahun membuat ia dipercaya menjadi koordinator liputan. Ia pernah berkata kepada saya bahwa orang tuanya pernah berlangganan harian umum Haluan pada era tahun 1970an di Kuantan Singingi. Pria asli Kuansing ini tidak terlalu mencolok penampilannya, ia hampir selalu mengenakan kemeja garis-garis lujur dengan lengan pendek. Gaya bicaranya khas sehingga ketika ia berbicara terlihat lebih berisi dan berwibawa lagi tenang. Setiap pagi ia selalu mengarahkan kami untuk memburu berita yang telah direncanakan sebelumnya oleh para redaktur dan wakil pemimpin redaksi.
Jadi gini alurnya dalam pembuatan sebuah berita kawan pertama adalah rapat proyeksi oleh redaktur bersama dengan pimred malam hariya sekitar pukul 22.00, kemudian korlip ditugaskan untuk memberikan tugas tersebut sambil menampung aspirasi para wartawan di pagi harinya sekitar pukul 09.00, kemudian wartawan berjuang mencari dan membuat berita lalu mengirimnya ke bagian masing masing. Seperti saya misalnya mengenai rubrik politik maka saya akan membuat berita lalu mengirimkanya ke server halaman politik tentunya batas pengiriman berita kami di batasi yaitu pada pukul 14.00 setidaknya beberapa proyeksi sudah dilaporkan kepada sekretaris redaksi untuk di bahas pada rapat proyeksi sore harinya oleh redaktur dan wapimred. Setelah rapat proyeksi sore selesai maka redaktur akan siaga di depan layar komputer untuk memeriksa rubrik masing-masing dan seketika juga melakukan proses editing berita yang telah dikirimkan oleh wartawan. Setelah semuanya selesai di edit entah apa yang dilakukan lagi sehingga halaman pertama esok hari adalah kadang di luar dugaan. Terakhir adalah proses percetakan koran di bagian mesin, kemudian dini harinya koran akan di distribusikan ke berbagai daerah di Riau.
 Kejadian seperti itu akan terus berulang setiap harinya hingga kiamat nanti barangkali. Jika pembaca membayangkan maka akan terlintas kebosanan di benak masing-masing, tetapi jangan salah sangka dulu karena pekerjaan sebagai wartawan adalah sebuah pekerjaan yang dinamis, penuh tantangan, dan menuntut ide serta kreatifitas yang tinggi.
Kembali ke laptop......setelah bencana banjir usai dimana peristiwa tersebut adalah pengalaman pertama saya yang menghantarkan saya ke petualangan berikutnya sebagai seorang wartawan pro. Berikutnya adalah saya ditugaskan oleh korlip untuk meliput sidang mantan Gubernur Riau dua periode yaitu H.M Rusli Zainal yang terkenal dengan dua kasus korupsinya yaitu kasus suap pada PON Riau tahun 2012 dan kasus pemberian izin pengelolaan hutan terhadap berbagai macam perusahaan yang juga menyeret kepala dinas kehutanan Riau serta beberapa kepala dinas kehutanan kabupaten di Riau. Kasus yang hanya saya kenali lewat media televisi selama ini sekarang saya hadapi, namun saya lekas sadar bahwa saya telah beranjak ke level berikutnya sehingga kemampuan saya harus tetap di uji.
 “Nanda hari ini tolong liputan di PN Pekanbaru ya, soalnya reporter hukrim kita lagi sakit, “ kata bang Elpi. Saya pun dengan penuh semangat langsung menyetujui sekaligus bertanya-tanya apakah saya mampu menjalani tugas tersebut. Setelah mengetahui jadwal dan letak PN Pekanbaru saya langsung tancap gas dengan si biru menuju PN Pekanbaru yang terletak di Jalan Teratai. Sepanjang perjalanan saya teringat akan kata bang Elpi bahwa ketika meliput persidangan maka kita harus mencermati dengan baik suasana dan alur sidang sehingga menghasilkan sebuah tulisan yang kaya akan data. Saya telah menyiapkan semua senjata nya sebuah handphone untuk recorder, pulpen, dan buku catatan kecil yang saya beli seharga 3000 rupiah di kedai fotokopi belakang Kantor Gubernur Riau.
 Memasuki areal Pengadilan Negeri saya langsung memarkir motor saya dan bergegas menuju pintu yang saya lihat orang cukup ramai karena memang saya tidak tahu di mana Rusli di sidang. Rupanya ia di sidang di ruang sidang utama PN Pekanbaru dimana siapapun yang baru saja memasuki PN akan di suguhi langsung oleh sidang sang mantan gubernur yang terkenal flamboyan itu, lalu jika kita menaiki dua anak tangga yang menuju lantai dua maka juga akan menemui ruang sidang yang lain. Saat itu cukup ramai, terutama oleh pengunjung sidang yang ingin menyaksikan sidang Rusli yang kebanyakan adalah ibu-ibu. Ada juga beberapa orang jurnalis baik dari media lokal maupun nasional serta beberapa aparat kemanan dari Polres Pekanbaru terlihat melakukan pengamanan yang tidak cukup ketat.
Saya memasuki ruang sidang dengan perasaaan yang menakjubkan karena seumur hidup itu alah pengalaman pertama bagi saya memasuki ruang sidang dan yang di sidang adalah mantan gubernur bukan para maling ayam atau para pelanggar lalu lintas. Lumayan gugup yang saya rasa, walaupun sidang kelihatannya baru saja dimulai. Saya melihat ke sekeliling ruang sidang terlihat bangku depan terisi penuh dimana dominan sebelah kiri pendukung RZ (singkatan untuk Rusli), sebelah kanan oleh jurnalis dan di kedua sisi juga di siagakan satu orang personil dari kepolisian yang bergantian menjaga jalannya sidang. Antara pengunjung sidang dengan terdakwa dibatasi dengan semacam pagar yang pasti ada maksudnya. Hahaha..saya kan bukan anak hukum tetapi nanti lah saya cari ya kenapa ada pagar di dalam ruang sidang. Rusli didepan sebelah kanan saya, ia mengenakan baju kemeja putih dengan celana hitam serta sepatu hitam mengkilat. RZ memang selalu mengenakan baju kemeja putih ketika menjalani persidangan. Di sebelahnya berjejer pengacara setianya yang berjumlah sebanyak 7 orang kalau saya tidak salah menghitung. Menurut saya wajar saja jika RZ punya banyak pengacara karena memang ia butuh bantuan dari banyak orang dan lagian jika hanya satu pengacara maka ia harus mengundang pengacara tenar negeri ini, sebut saja namanya si poltak, o.c kalongos, dan hothotsa paris hutapeak :D.
Ketua pengacara RZ yang bernama Eva Nora mungkin ini mungkin ya mengundang berbagai temannya untuk memaksimalkan pembelaan untuk membela RZ. Seperti biasa sebelum sidang di mulai RZ telah disumpah sebelumnya oleh hakim. Majelis Hakimya ada tiga orang bro, ketua kursinya agak tinggi sandarannya dan hakim dua lainnya agak pendek sandaran kursinya. Setelah saya perhatikan dengan seksama sang ketua hakim yaitu Bachtiar Sitompul agak mirip dengan Mahfud MD apalagi kalau ia memakai kacamata :D. Waktu itu sidang yang saya ikuti masih dengan agenda kasus dugaan penyalahgunaan wewenang oleh sang mantan gubernur terkait dengan pemberian izin pengelolaan hutan kepada beberapa perusahaan di Riau dengan menghadirkan beberapa saksi. Sebaiknya tidak usah saya sebutkan ya cerita ataupun kasusnya karena memang akan membuat kita pusing..hahaha termasuk saya.
 Dengan seksama saya cermati satu demi satu pertanyaan sang hakim, sepertinya hakim memang tahu benar soal kasus ini saya kagum dengan pertanyaan hakim yang seolah-olah menjebak saksi untuk mengeluarkan keterangan yang sulit. Para saksi pun dengan hati-hati mengeluarkan keterangan yang kesannya seperti kucing-kucingan. Saya mengikuti sidang RZ hingga sore hari dengan sangat serius padahal saya kebingungan akut karena memang saya tidak mengerti terlalu dalam mengenai kasus ini. Oleh karena itu saya mencatat hampir seluruh keterangan dari saksi demi saksi walaupun tidak menyeluruh.
 Awalnya saya sungkan bertanya kepada beberapa orang wartawan yang hadir karena takut nanti dibilang saya wartawan goblok, tetapi rasa ingin tahu jua yang mengalahkannya maka saya bertanya kepada beberapa orang wartawan yang hadir pada sidang hari itu. Tidak hanya kepada para wartawan yang hadir, saya juga bertanya kepada beberapa orang kawan lama saya yang juga ternyata hadir di tengah persidangan, mereka sekarang telah menjelma menjadi seorang aktivis dari berbagai LSM di Riau. Diantara mereka yang masih saya sangat ingat adalah seorang gadis bermata sipit, putih dan badannya sedikit berisi. Ia terlihat asyik dengan kameranya yang sedang merekam suasana persidangan dan sesekali ia juga mencatat dibuku yang selalu ada digengamannya. Dia adalah Lovina Soemi, seorang yang mungkin saja keturunan tionghoa, orangnya memang agak sedikit cuek apabila pertama kali dikenal tetapi apabila dikenal secara mendalam maka kita akan tahu dengan cepat betapa cerdasnya gadis ini.
 Gaya bicaranya khas, pelan tetapi pasti dan kepadanya lah saya bertanya banyak tentang kasus RZ. “Lovina kan? Masih ingat sama aku ga?,” saya menyapanya. Denga wajah sedikit kebingungan yang mungkin saja ia tengah mengingat siapa sosok pria yang tiba-tiba menyapanya ini, lalu ia pun senyum,” ohh...Nanda ya? Apa kabar? Kenapa bisa disini? Sejak kapan?,” ia balik menyerang saya dengan ribuan pertanyaan :D. Lovina juga sempat meledek saya ketika saya bertanya tentang kasus RZ, “ makanya ikutin dong dari awal kasusnya,” katanya rada-rada jutek..hahah. Saya hanya tersenyum melihat tingkahnya dan membalas,” kan saya masih baru disini jadi ya ga tau banyak,”.
 Sidang terus berlanjut, saksi demi saksi terus dihadirkan oleh JPU untuk dicecar seperti hujan deras pakai es dan semua saksi mendapatkan jatah berondongan pertanyaan yang nyaris sama. Beberapa saksi terlihat menjawab dengan mantap dan penuh senyuman menawan namun beberapa juga terlihat gugup dan menjawab terbata-bata pertanyaan dari JPU dan Hakim. Diantara sekian banyak komentar-komentar para saksi maka terdapat satu kalimat yang hampir semua saksi menyebutnya yaitu, “saya tidak tahu yang mulia,”.
 Kata-kata pamungkas itu selalu digunakan oleh para saksi yang bisa saja benar-benar tidak tahu atau tidak mau tahu atau ketakutan. Jurus ampuh itu memang di izinkan oleh yang mulia Hakim karena jika tidak bisa menjawab maka kata tersebut adalah sangat logic. Apakah pembaca pernah menjadi seorang saksi? Saksi nikah mungkin pernah ya tetapi bagaimana jika menjadi di sidang yang kasusnya menyeret banyak orang, ini akan menjadi cerita lain yang memang kita memahami bagaimana gugupya para saksi dalam sidang RZ. Setelah semua saksi selesai diberondong maka hakim meminta tanggapan dari kubu RZ,” apakah saudara keberatan dengan keterangan para saksi,” kata hakim sambil menoleh kepada RZ dan kumpulan pengacaranya. Berembuk sebentar dengan para pengacara lalu RZ mengatakan bahwa ia tidak tahu dan sama sekali tidak mengetahui keterangan para saksi yang berarti ia tidak mengajukan keberatan. Hakim Bachtiar pun menutup sidang dengan mengetuk palu sidang sebanyak tiga kali,” baiklah kita tutup sidang hari ini dan akan dilanjutkan dengan minggu depan,” tok..tok..tok...ia dan kedua hakim lain pun berlalu. Nah........ada hal yang menarik setiap sidang RZ telah selesai maka RZ akan berjalan kearah pengunjung sidang yang mana ia telah disambut oleh pendukung setianya yang mayoritas adalah ibu-ibu, mereka pun menyalami RZ satu persatu ada dari mereka yang senang dan ada juga yang sedih. Dalam beberapa kesempatan sidang saya juga melihat beberapa orang yang masih berseragam PNS Riau turut hadir menyaksikan persidangan dan menyalami RZ usai sidang. Kharisma mantan Gubernur Riau ini rupanya masih terasa dihati para pendukungnya. Saya pun mengabadikan momen bersalaman RZ dengan beberapa pendukungnya, lalu saya pun berlalu dari ruang sidang. Semua data yang saya butuhkan sudah didapat maka segera saya bergerak menuju ruang redaksi untuk mengetik berita persidangan pertama saya.
RZ menyalami para pendukungnya usai sidang
 Sesampainya di kantor saya pun kebingungan memulai mengetik berita karena sulit memang mengetik berita persidangan yang saya kurang pahami, maka tidak habis akal saya mencari beberap referensi dari berita-berita sebelumnya dari berbagai media. Akhirnya berita pun selesai diketik lalu saya istirahat sejenak sambil ngobrol-ngobrol dengan bang Elpi, kami membicarakan sekilas mengenai Haluan, latar belakang masing-masing dan bagaimana  hal-hal kedepan. Dengan senang hati saya pamit dan kembali kerumah dengan perasaan yang tentu saja gembira karena berhasil mengetik berita tentang persidangan, apapun hasilnya ya itu saya serahkan kepada redaktur.
 Esoknya saya melihat berita yang saya buat kemarin terdapat banyak editan oleh redaktur, maka pada rapat proyeksi paginya akau diberikan nasihat oleh bang Elpi bagaimana cara meliput sebuah persidangan dengan baik. Ia kembali mengingatkan bahwa untuk meliput persidangan maka tidak hanya isi dari sidang yang diambil tetapi juga termasuk beberapa sisi lain dan suasana sidang pada waktu itu sehingga pembaca serasa berada di dalam ruang sidang, kayak gitu kata bang Elpi. Senang rasanya diberikan nasihat dan arahan yang berarti orang tersebut menaruh perhatian terhadap kita sekaligus juga melecut semangat saya untuk berbuat yang lebih baik. Untuk beberapa kali saya ditempat kan sementara oleh redaksi di PN Pekanbaru untuk meliput sidag RZ setiap hari rabu dan kamis, selain dua hari itu saya mencari berita yang lain di DPRD Riau.
Setelah wartawan hukum dan kriminal bang Anom  kembali sehat, maka secara total saya berganti pos yaitu tidak lagi di PN Pekanbaru melainkan permanent di DPRD Riau, meliput semua aktivitas anggota dewan yang terhormat. Berbagai pelajaran saya mampu ambil ketika di bertugas di DPRD Riau, suka dan duka, teman baru, dan banyaaaakkkkk hal yang baru lainnya. Bagaimana saya di DPRD Riau, dan apa saja yang saya lakukan di sana, maka jawabannya ada pada edisi selanjutnya itupun jika pembaca masih mau membaca cerita membosankan ini....hahahha.
Talatuang kanaiak, tasenggol katurun kok ado salah-salah kato mohon dimaafkan dek dunsanak kasadonyo, sekian dan terima kasih. 

Jl. Ade Irma Suryani, Pekanbaru
Kamis, 15 Mei 2014
Pukul 17.40 WIB


Minggu, 13 April 2014

Nyontek dengan Elegan


Seringkali mencontek, nyontek, atau pun cheating bahasa kampung gueh menjadi alternatif bagi para anak sekolahan termasuk mahasiswa termasuk siapapun sebagai jalur khusus cepat bagi yang kurang mengerti bahkan tidak mengerti sama sekali menjawab soal ujian ketika UTS, UAS, dan nama lainnya, so...ini gueh kasih langsung buat eloh bagaimana cara mencontek yang elegan dan baik sehingga tidak mengusik ketentraman korban apalagi pengawas ujian, so cool aja bro hahahha....cekidot :

1.     Malam sebelum ujian elu harus membayangkan siapa target atau korban yang akan menjadi sumber pendapatan jawaban lu besok hari, jangan bayangkan cuma satu orang aja kecuali hanya ulangan harian nah jika UAS? Kan banyak tuh ujiannya, bayangkanlah banyak sumber bro, misalnya hari pertama namanya si Pran, hari kedua si Pron dan hari ketiga mungkin saja Agnes, begitu seterusnya.

2.    Setelah menentukan target sumber contekan selanjutnya eloh rangking mereka sesuai ability nya, misal si Rina jago matematika jadi lo kudu deket Rina pas ujian matematika jangan pas ujian kesenian..haha.

3.    Menentukan kemampuan target udah, selanjutnya kita agak melakukan PDKT dengan calon korban misalnya lo ngajakin dia buat bareng ke sekolah besok hal ini penting bro karena kemungkinan kursi bisa selalu dekat sekitar 90% karena pas bareng kan lu ngajak ngobrol juga biar bisa duduk deketan gitu.

4.    Rela berkorban dikit ga apa-apa lah bro...beliin coklat kek atau apa kek,..atau traktir sarapan pagi bawain nasi goreng dua kotak.

5.    Nah, jika langkah 1 sampai dengan 4 sudah terlaksana saatnya beraksi di dalam kelas bro,,kita harus menggunakan jurus silent but happen dengan tampang sepolos dan seadanya, tapi musti kayak pura-pura paham soal juga perlu biar pengawas ga berdiri kayak patung aja di samping lo bro.

6.    Kalau ujiannya matematika atau butuh kertas pencari maka manfaatkan alibi itu dengan sempurna, pura-pura lah mengorat-oret kertas kosong itu dengan angka-angka sesuka hati elu pokoknya kayak sibuk gitu lah, jangan lu gambar monyet mencibir nanti yang baca ini jadi tersinggung :D.

7.    Bagaimana dengan ujiaan yang butuh pemahaman? Ya elah lu tinggal pura-pura stel mata ke atas loteng aja bro seperti mengingat sesuatu, biar pengawas berfikir oo..anak itu paham sekali gayanya.

8.    Lihat posisi pengawas bro apakah ia sedang mengawasi dengan ketat atau ia sedang sibuk dengan hapenya, siap-siap pada posisi .

9.    Perhatikan lembar jawaban dan susunannya biar gampang dan memahami posisi jawaban korban

10.  Sekarang arahkan kedua mata lu ke lembar jawaban Rina yang pasti sudah berisi lembarnya karena kan lu anggap dia jago matematika, perhatikan dengan seksama tetapi cepat.

11.   Lihat jawaban dari atas terlebih dahulu sekaligus agak empat atau lima jawaban lu hapalin posisinya. A, B, C, D, E. Misalnya A berarti kan paling kiri di di isi.

12.  Jangan langsung di isi bro, di kasih titik aja dulu karena memang waktu kita sangat terbatas jadi pastikan semuanya sudah terjawab barulah kita dengan perasaan senang gegap gempita mengisi lembar jawaban. Hahaha.

13.  Sebelum mengumpulkan soal ujian dan lembar jawaban pastikan beberapa orang telah mengumpulkan kalau perlu elu yang terakhir ngumpulin bro biar dikira sama pengawas lu pekerja keras sehingga lama kelarnya.

14.  Pas ngumpulin jawaban pasang wajah agak cemberut rada –rada kesel karena ga bisa jawab kalau perlu ngomong-ngomong sendiri secara pelan-pelan, bailang aja “aduh soalnya lumayan sulit ni,” untuk mengalihkan perhatian broo.

15.  Ini yang terakhir bro kalau memang benar mau mencontek malamnya sebelum ujian lu ga usah belajar apapun karena usaha kita adalah mencontek bukan menjawab sendiri karena mencontek juga harus dengan niat 100% bro...biar ga separuh hati melakukan pencontekan.

16.  Esoknya kalau berhasil ulangi terus bro biar skill mencontek lu makin yahutt...karena mencontek adalah kreatifitas...hahahahha.

Cina aja nyontek bikin hape, iya kan bro? Masa ga boleh nyontek kan demi kebaikan bersama terutama diri kita sendiri, lihat aja tuh cina kaya gara-gara ponsel contekan....hahahahhaha. Peace. J

Minggu, 16 Maret 2014

Mencari Tuah Kota Bertuah Season II PART I



Kawan..saya kembali ke pekanbaru, saya kembali mencoba asa di kota ini kota yang terkenal dengan kabut asap dan banjirnya. Dengan ini saya nyatakan bahwa saya telah siap untuk mengarungi badai season kedua di kota ini, bagaimana kah petualangan saya? Yang pastinya makin membosankan dan agak tegang-menegangkan dan bergelombang gimana getoh. Berdasarkan cerita pra musim yang lalu saya berangkat pada hari minggu dan mendarat dengan selamat di kota yang panas ini. Tidak ada sesuatu yang spesial memang ketika saya kembali untuk yang kedua kalinya dihari itu, bedanya adalah kota ini serasa sudah tidak asing lagi bagi saya itu sama kayak petanya kota ini sudah ada dalam benak saya tentunya tidak sampai ke jalan-jalan tikusnya juga kawan, ada sih beberapa jalan tikus yang saya hafal. Dua hari menjelang tes di bank itu, saya hanya mempersiapkan diri dengan menjaga kesehatan sebaik-baiknya karena suka tidak enak badan setelah melakukan perjalanan jauh.
 Selasa itu tiba, sesuai suara yang menelepon saya datang pukul 09.45 pagi dengan kemeja biru dan celana hitam dan lagi-lagi saya mengalami kejadian yang diluar dugaan. Pertama yaitu ketika saya sudah menunggu lebih dari setengah jam tetapi tidak juga dipanggil lalu saya menemui resepsionisnya dan alamakk alangkah terkejutnya saya ketika ia menyebut dengan manisnya,” pak Nanda tes wawancaranya jam 2 nanti bukan jam 10,” katanya sambil tersenyum. Saya tidak tahu namanya karena memang tidak ada name tag di dadanya :D. Sedikit kecewa memang karena saya dengan sangat persis mengetahui bahwa yang bicara ditelpon itu bilang jam 10 pagi...tapi tak apalah jam sudah menunjukkan pukul 11.00, saya pun berfikir untuk pergi ke pustaka Soeman HS tempat dimana saya selalu menemukan sesuatu yang baru baik itu ide ataupun hal-hal lain yang dirasakan perlu.

Kamis, 30 Januari 2014

Menjelang Musim Kedua



Setelah cukup lama vakum dalam artian saya tidak lagi menulis tentang perjalanan hidup di kota ini, kini saya kembali dengan cerita baru yang tak kalah membosankan. Jika pembaca membaca “mencari tuah kota bertuah” edisi sebelumnya tentu akan dengan sangat mudah memahami hal-hal yang akan saya ceritakan pada edisi kali ini. Yapp...benar sekali, langkah saya terhenti ketika saya tidak lagi bekerja di KIA mobil sebagai marketing, setelah berhenti saya memutuskan untuk fokus pada beberapa tes yang tentunya mengiming-imingi saya dengan pekerjaan. Pertama adalah tes di salah satu bank terbesar di indonesia dimana saya hanya sampai pada wawancara psikologi, kemudian tes pekerjaan yang paling diminati oleh manusia sejagat raya, mungkin menempati rangking 1 dalam hal pekerjaan yang paling di idamkan. Apalagi jikalau bukan hantu yang bernama pegawai negeri sipil bekerja sebagai civil servant alias pelayan publik, lalu mengapa banyak orang yang berbondong-bondong untuk mengikuti tes yang satu ini? jawaban yang terbanyak tentunya adalah kesejahteraan dan keterjaminan hidup hingga uzur nanti. Seolah menjadi PNS kita sudah menjadi dewa yang hidupnya terus berada dalam level aman. Rupanya banyak manusia yang setengah dewa. Ketika tes CPNS akan berlangsung maka dengan seketika itu juga akan berhembus angin yang selalu berkata ada uang ada jabatan, kalau saya sih secara pribadi tidak percaya dengan yang namanya begituan dan lagian kalau saya percaya apa untungnya..hahaha.
 Bagi saya jika mereka masuk dengan cara berbayar ataupun cara yang baik-baik dalam artian lulus murni toh sama saja, sama-sama menjadi pelayan publik, sedikit perbedaan adalah yang masuk dengan cara berbayar berarti sangat ingin menjadi pelayan publik..hahaa. Tes CPNS tahun 2013 saya mengambil tes di daerah yang belum pernah saya jajaki hanya pernah mendengar namanya saja tepatnya di batang aia full alias full river alias sungai penuh Provinsi Jambi. Saya nekat melakukan tindakan penyeberangan karena ada seorang kawan tepatnya sih bukan kawan tetapi kawan yang penuh memory membantu saya mengurus semua keperluan saya untuk tes. Saya hanya mempersiapkan berkas dari Pekanbaru lalu saya mendengar bahwa saya dipanggil untuk tes. Tidak ada persiapan khusus yang saya lakukan untuk menghadapi ujian CPNS pertama dalam hidup ini hanya beberapa hal yang saya lakukan seperti meminta doa restu kepada kedua orang tua, nenek, dan beberapa sanak famili kemudian saya browsing beberapa soal-soal CPNS lalu saya membahasnya beberapa butir soal. Usaha terakhir adalah do’a. Berangkat menuju daerah yang belum saya kenal sama sekali merupakan suatu hal yang paling saya suka, sudah terbayang akan pemandangan yang baru dan tentunya indah. Sungai Penuh benar-benar daerah yang tidak bertuan bagi saya, tidak jauh memang tetapi di sana saya tidak punya siapapun untuk temui. Beruntungnya bagi saya adalah salah seorang senior sewaktu kuliah dulu bang Deri juga ikut tes di Sungai Penuh, jadi tak payahlah jika sudah ada kawan yang punya sanak saudara di sana.
 Sebelumnya pernah terbesit dalam fikiran saya bahwa sewaktu disana selama dua hari saya akan tidur di mesjid saja, dan ternyata memang banyak yang tidur di mesjid sewaktu saya di sana. Pemerintah Kota Sungai Penuh membuka semua pintu mesjid demi menampung semua tamu yang datang, tamu lebih dari 10.000 orang belum termasuk pengantar tamu :D. Hari itu saya berangkat dengan mobil milik bang Deri, terlebih dahulu saya kerumahnya menunggu teman-teman bang Deri yang lain datang. Jadwal keberangkatan selepas jumat terpaksa di delay karena setelah dirembukkan lebih baik berangkat setelah magrib dan tentunya saya tidak bisa melihat pemandangan dengan leluasa. Selepas makan malam kami berangkat dan ibu bang deri menyiapkan beberapa bungkus nasi untuk bekal kami di jalan.
 Tidak ada pemandangan yang bisa saya ceritakan selain hanya lampu mobil yang lalu lalang serta hembusan angin yang awalnya hangat berubah menjadi sangat dingin ketika kami sudah memasuki wilayah Alahan Panjang. Memang sangat terkenal bahwa wilayah Alahan Panjang sangat dingin karena memang berada di daerah ketinggian, kebun teh yang menghijau pada siang hari hanya seperti padang rumput yang hitam jika malam hari dan lampu-lampu rumah warga yang gemerlap dan bertumpuk-tumpuk. Saya mulai terkantuk-kantuk dan terbangun ketika kami sudah mencapai daerah Solok Selatan perbatasan dengan Jambi, kami memutuskan untuk berhenti istirahat sejenak dan menyantap nasi yang dibawa dari rumah bang Deri tadi. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari namun kami masih sepertiga perjalanan, memang niat awal dari rumah adalah slow but sure. Mobil yang kami tumpangi mendarat di Kota Sungai Penuh dengan selamat sekitar pukul 4.30, lalu kami langsung menuju rumah saudara bang Deri. Baru saja menginjakkan kaki di Kota Sungai Penuh saya langsung menyatakan kekaguman itu lewat syukur yang saya ucap. Sebuah kota yang indah bahkan sangat indah, hawanya sejuk karena memang di kelilingi oleh bukit, dari kejauahan kita bisa melihat kokohnya puncak Gunung Kerinci.
Hari itu kota yang baru mekar dari Kabupaten Kerinci tersebut terlihat lebih ramai banyak kendaraan dengan nomor polisi luar daerah lalu lalang di jalanan kota, utamanya kendaraan dari Sumatera Barat. Memang di sini umumnya orang-orang berbicara dengan bahasa Minangkabau karena dulunya wilayah ini masuk pada wilayah Sumatera Barat. Jadi tak susahlah berkomunikasi dengan orang-orang di kota ini, seperti biasanya di setiap sudut jalan akan kita temui rumah makan padang, sate padang, dan soto padang. Serasa berada di kampung sendiri.

Rabu, 01 Januari 2014

Hidup Adalah Pilihan


Pilihan hidup adalah awal dari akar masalah kehidupan.
Terkadang seseorang merasa pilihan hidupnya hanya sedikit.
Terkadang juga mereka pilihan hidupnya terasa banyak.
Tetapi sadar atau tidak bahwa pilihan hidup adalah ciptaan kita sendiri.
Kita tidak memikir terlalu matang apa yang akan menjadi pilihan.
Dan sayangnya pilihan juga tidak mengajarkan kita mana yang lebih baik.
Banyak orang yang bilang bahwa pilihan hidup harus di jalani satu persatu.
Tetapi juga tidak sedikit orang yang sukses dengan mengambil banyak pilihan.
Jika hanya mengembalikan kepada diri sendiri rasanya sangat pasrah.
Mencoba berusaha, tetapi di tengah kembali muncul pilihan baru.
Ingin berpaling kemudian teringat kepada pilihan lama.
Mencoba hanya berfikir maka terngiang akan banyak pilihan.
Memilih adalah yang paling sulit.
Sulit itu jika yang paling baik di antara yang baik, dan sebalikya.
Pilihan telah menjadi warna dalam kehidupan kita,
Tanpa pilihan hidup hanyalah hampa.
Hati-hati dengan pilihan, karena itu adalah amanah.
Pilihan akan membuat hidup lebih tangguh.
Pada dasarnya tidak ada pilihan yang salah.
Kembali kepada yang maha kuasa adalah jawaban penuh kedamaian.
Karena-Nya lah yang tau apa yang baik dan buruk untuk kita.  

Di Garuda Sakti
Pukul 15:41 WIB.
Edisi galau.